Menu ✖

Mode Gelap
Selamat Hari Santri Nasional 2026 MOU Sister School dengan SMK Chung HWA Wei Sin Trengganu Malaysia dan MTsN Solok 2 Sumatra Selatan Olimpiade Bahasa Arab Quranic Science Competition Olimpiade IPS Quranic Science Competition Cahaya Prestasi Qur’ani: Berhasil Raih Medali di POSI 2025

Kesiswaan · 28 Oct 2026 08:42 WIB ·

Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026


 Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 Perbesar

Sumpah Pemuda di Era Digital:

Cerdas Bermedia, Dewasa Berbangsa

 

Oleh: Dr. Irsyadur Rofiq, S.H.I., M.H.I.

Tutor Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Karya Ilmiah MTs Genius Al-Yasini

Ketua Lembaga Pers dan Literasi Digital Yayasan Miftahul Ulum Al-Yasini

 

 

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak penting perjalanan kebangsaan: Sumpah Pemuda 1928. Sebuah ikrar yang lahir dari kesadaran bahwa perbedaan suku, bahasa, daerah, dan latar belakang bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun persatuan. Para pemuda kala itu telah menunjukkan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuasaan, tetapi juga oleh keberanian berpikir, kematangan sikap, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.

Hampir satu abad berlalu, semangat tersebut tetap relevan, meskipun tantangan yang dihadapi generasi muda telah berubah. Jika pemuda 1928 berjuang menyatukan bangsa di tengah penjajahan, pemuda masa kini menghadapi tantangan berupa derasnya arus informasi, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), maraknya berita bohong, perundungan digital, budaya viral, dan kecenderungan masyarakat terpecah akibat perbedaan pandangan.

Perjuangan generasi muda sekarang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, organisasi, dan lingkungan masyarakat, tetapi juga di layar telepon genggam. Media sosial telah menjadi ruang pergaulan, belajar, berekspresi, sekaligus membentuk cara pandang terhadap dunia. Dalam ruang yang sama, anak muda dapat menyebarkan ilmu dan inspirasi, tetapi juga dapat terjebak dalam budaya saling menghina, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, serta mengejar popularitas tanpa mempertimbangkan manfaat.

Di sinilah makna Sumpah Pemuda perlu direnungkan kembali, terutama oleh para pelajar dan santri. Persatuan Indonesia tidak cukup diucapkan dalam upacara. Persatuan harus diwujudkan melalui perilaku, termasuk dalam cara menggunakan teknologi, menghormati perbedaan, menyampaikan pendapat, dan memperlakukan sesama di dunia digital.

 

Pemuda Masa Kini: Antara Peluang dan Tantangan

Pemuda masa kini hidup dalam zaman yang memberikan peluang luar biasa. Dengan perangkat sederhana, seorang pelajar dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan, mempelajari bahasa asing, membuat karya tulis, mengembangkan kreativitas, bahkan memperkenalkan potensi daerahnya kepada masyarakat luas. Teknologi membuka kesempatan bagi siapa pun untuk belajar dan berkarya tanpa sepenuhnya dibatasi jarak dan keadaan.

Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan. Tidak sedikit anak muda yang menghabiskan waktu untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas, merasa perlu mengikuti setiap tren, atau mengukur keberhasilan berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, dan penayangan. Ada pula yang mudah percaya terhadap informasi viral, terburu-buru memberikan komentar, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai alasan untuk menyerang orang lain.

Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan berpikir. Seseorang bisa mahir menggunakan berbagai aplikasi, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta dan opini. Seseorang dapat memiliki ribuan pengikut, tetapi belum tentu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu menjadi pengguna yang kritis, kreatif, produktif, dan bertanggung jawab. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, membangun karakter, serta menghasilkan karya yang berguna.

Pemuda Indonesia membutuhkan keberanian untuk tidak sekadar mengikuti arus. Mereka perlu memiliki cita-cita, disiplin, integritas, dan kepedulian sosial. Sebab, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa cepat generasi mudanya mengikuti tren, melainkan oleh seberapa baik mereka mempersiapkan diri untuk menjawab persoalan kehidupan.

 

Santri di Era Digital: Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman

Bagi santri, semangat Sumpah Pemuda memiliki makna yang sangat dekat dengan nilai-nilai pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tradisi keilmuan pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus disertai adab. Kepandaian tidak semestinya membuat seseorang merasa paling benar, dan perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam kehidupan digital yang sering kali memberikan ruang luas bagi komentar spontan, penghakiman, dan perdebatan tanpa batas.

Santri masa kini memiliki tanggung jawab untuk merawat warisan luhur pesantren sekaligus menjawab tantangan zaman. Menjadi santri tidak berarti menutup diri dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, santri perlu mempelajari teknologi dengan tetap menjadikan nilai agama dan akhlak sebagai pedoman.

Santri yang cerdas bermedia adalah santri yang mampu memadukan kedalaman ilmu dengan kebijaksanaan dalam berkomunikasi. Ia tidak mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Ia tidak menggunakan media sosial untuk merendahkan orang lain. Ia tidak menjadikan perbedaan mazhab, organisasi, pilihan politik, atau latar belakang sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.

Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diingatkan untuk melakukan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran berita sebelum mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut. Prinsip ini sangat relevan bagi santri dan pelajar yang setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi di media sosial.

Begitu pula nilai amanah, sidq, dan tasamuh perlu hadir dalam aktivitas digital. Amanah berarti bertanggung jawab atas informasi dan kepercayaan yang diterima. Sidq berarti menjaga kejujuran dalam menyampaikan sesuatu. Tasamuh berarti menghargai perbedaan tanpa harus kehilangan prinsip.

Santri juga perlu memahami bahwa dakwah dan pengabdian pada masa kini dapat dilakukan melalui berbagai medium. Tulisan yang mencerahkan, video edukatif, artikel keislaman yang bertanggung jawab, dokumentasi kegiatan sosial, dan konten yang menguatkan persaudaraan merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.

Namun, dakwah digital tidak cukup hanya mengejar jumlah penonton. Konten keagamaan harus disusun dengan pengetahuan yang memadai, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta bahasa yang santun. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana menyebarkan kebaikan justru digunakan untuk menyebarkan kebencian.

Santri perlu membuktikan bahwa kecakapan digital dan kedalaman spiritual dapat berjalan beriringan. Tradisi pesantren tetap dijaga, sementara teknologi dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ilmu.

 

MTs Genius Al-Yasini: Menumbuhkan Pelajar yang Kritis, Kreatif, dan Berkarakter

Semangat Sumpah Pemuda juga perlu dihidupkan dalam lingkungan pendidikan, termasuk di MTs Genius Al-Yasini Wonorejo Pasuruan. Sebagai bagian dari dunia pendidikan yang mempersiapkan generasi muda, madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk pelajar yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi perkembangan zaman.

Pelajar MTs Genius Al-Yasini merupakan bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Mereka memiliki kesempatan untuk belajar dari berbagai sumber, mengembangkan minat, menemukan potensi diri, dan menghasilkan karya yang dapat dikenal masyarakat luas. Akan tetapi, kesempatan tersebut harus diiringi pendampingan agar teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, melainkan juga alat pembelajaran dan pengembangan diri.

Di sinilah kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik dan karya ilmiah memiliki peran penting. Jurnalistik melatih pelajar untuk mengamati peristiwa, mencari fakta, melakukan wawancara, menyusun informasi, dan menyampaikan berita secara bertanggung jawab. Sementara itu, kegiatan karya ilmiah membiasakan mereka mengajukan pertanyaan, membaca referensi, mengumpulkan data, menganalisis persoalan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti.

Kedua kegiatan tersebut bukan sekadar latihan menulis. Keduanya merupakan proses pendidikan untuk membentuk cara berpikir yang kritis, sistematis, jujur, dan terbuka terhadap pengetahuan.

Melalui jurnalistik, pelajar belajar bahwa sebuah berita tidak boleh disusun berdasarkan prasangka atau kabar yang belum terverifikasi. Mereka perlu membedakan fakta, opini, dan interpretasi. Mereka juga harus memahami pentingnya konfirmasi, keberimbangan, perlindungan privasi, dan penggunaan bahasa yang tidak merugikan pihak lain.

Melalui karya ilmiah, pelajar belajar bahwa pendapat yang kuat membutuhkan alasan dan bukti. Mereka dibiasakan untuk tidak sekadar mengikuti apa yang sedang populer, tetapi berani mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka juga belajar menghargai karya orang lain dengan mencantumkan sumber dan menghindari plagiarisme.

Keterampilan tersebut sangat penting di tengah perkembangan AI. Pelajar boleh memanfaatkan AI untuk membantu memahami materi, mencari inspirasi, atau menyusun kerangka tulisan. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir, kejujuran akademik, dan tanggung jawab penulis. Hasil yang dibuat dengan bantuan AI tetap harus diperiksa kebenarannya, disesuaikan dengan kebutuhan, dan digunakan secara etis sesuai aturan yang berlaku.

Bagi pelajar MTs Genius Al-Yasini, menjadi generasi digital bukan berarti harus selalu tampil di media sosial. Menjadi generasi digital berarti mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan diri, menghasilkan karya yang bermutu, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Bayangkan jika setiap pelajar mampu menulis satu artikel inspiratif tentang lingkungan madrasah, mendokumentasikan kiprah guru, mewawancarai tokoh masyarakat, mengangkat kisah perjuangan santri, atau meneliti persoalan kebersihan dan lingkungan di sekitarnya. Karya-karya sederhana tersebut dapat menjadi dokumentasi pengetahuan sekaligus bukti bahwa pelajar bukan sekadar konsumen informasi, tetapi juga pencipta pengetahuan dan penyebar inspirasi.

Dari madrasah, pelajar dapat belajar menjadi wartawan yang jujur, peneliti yang tekun, penulis yang bertanggung jawab, dan warga negara yang peduli. Mereka tidak harus menunggu dewasa untuk memberikan kontribusi. Perubahan dapat dimulai dari ruang kelas, perpustakaan, kegiatan ekstrakurikuler, halaman madrasah, hingga lingkungan tempat tinggal.

 

Menjadi Pelajar yang Dewasa Berbangsa

Dewasa berbangsa tidak berarti harus menunggu seseorang menjadi mahasiswa, tokoh masyarakat, atau pemimpin organisasi. Kedewasaan berbangsa dapat dimulai sejak menjadi pelajar madrasah.

Pelajar yang dewasa berbangsa menghormati guru, menyayangi teman, menghargai perbedaan kemampuan, dan tidak melakukan perundungan. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan potensi yang berbeda. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mengejek atau mengucilkan teman.

Dalam kehidupan digital, kedewasaan itu tercermin dari cara memberikan komentar, membagikan informasi, dan menyikapi perbedaan. Jika tidak setuju, ia menyampaikan alasan dengan santun. Jika menerima informasi yang meragukan, ia memeriksa kebenarannya. Jika melihat teman mengalami perundungan, ia tidak ikut menertawakan atau menyebarkannya. Jika membuat kesalahan, ia berani mengakui dan memperbaikinya.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari kebiasaan sehari-hari karakter kebangsaan dibentuk.

Indonesia merupakan rumah bersama bagi beragam suku, bahasa, agama, budaya, dan tradisi. Pelajar hari ini akan menjadi bagian dari masyarakat yang menentukan apakah keberagaman tersebut dirawat sebagai kekuatan atau dibiarkan menjadi sumber perpecahan.

Karena itu, semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan menghargai sesama, memperluas pergaulan yang sehat, mengembangkan kemampuan, dan berkontribusi bagi lingkungan. Pelajar MTs Genius Al-Yasini dapat memulainya dengan membangun budaya literasi, menjaga nama baik madrasah melalui perilaku positif, berkarya secara jujur, serta menggunakan media digital untuk menyebarkan pengetahuan dan kebaikan.

Kita tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk menunjukkan nasionalisme. Belajar dengan sungguh-sungguh, menghargai perbedaan, menjaga kebersihan lingkungan, membantu teman, dan menghasilkan karya yang bermanfaat merupakan bagian dari pengabdian kepada bangsa.

 

Penutup: Dari Madrasah, Menyalakan Semangat Indonesia

Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, hendaknya menjadi momentum bagi generasi muda untuk memperbarui komitmen kebangsaan. Dunia telah berubah, teknologi semakin berkembang, dan tantangan kehidupan semakin kompleks. Namun, kebutuhan bangsa akan generasi yang berilmu, berakhlak, jujur, dan bertanggung jawab tidak pernah kehilangan relevansinya.

Bagi santri, tantangan zaman merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa tradisi keilmuan dan akhlak pesantren dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi. Bagi pelajar MTs Genius Al-Yasini Wonorejo Pasuruan, kesempatan tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, kegiatan jurnalistik, penelitian ilmiah, kreativitas digital, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Kita membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menentukan tujuannya. Kita membutuhkan pelajar yang tidak sekadar mampu membuat konten, tetapi juga memahami tanggung jawab di balik setiap informasi. Kita membutuhkan santri yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berani menghadirkan solusi bagi persoalan zaman.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan hari ini, tetapi juga oleh kualitas karakter dan pengetahuan generasi muda yang sedang tumbuh di madrasah, pesantren, sekolah, dan berbagai ruang pendidikan di seluruh negeri.

Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar yang dikenang setiap 28 Oktober. Ia adalah amanah untuk terus belajar, berkarya, menjaga persaudaraan, dan memberikan manfaat bagi bangsa.

Mari jadikan media sosial sebagai ruang menyebarkan inspirasi, jurnalistik sebagai jalan mencari kebenaran, karya ilmiah sebagai latihan berpikir kritis, dan pesantren sebagai tempat menumbuhkan ilmu serta akhlak. Mari buktikan bahwa pelajar dan santri mampu menjadi bagian dari generasi yang cerdas bermedia, dewasa berbangsa, dan teguh menjaga persatuan.

Dari MTs Genius Al-Yasini Wonorejo Pasuruan, semangat itu dapat dimulai: dari satu bacaan yang membuka wawasan, satu tulisan yang mencerahkan, satu penelitian yang melahirkan gagasan, dan satu tindakan baik yang memberi manfaat bagi sesama.

Jangan hanya menjadi penonton perkembangan zaman. Jadilah generasi yang belajar memahami, berani berkarya, santun dalam bersuara, dan bertanggung jawab dalam membangun Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Berilmu, berakhlak, cerdas bermedia, dewasa berbangsa

Salam literasi, salam santri, salam persatuan Indonesia!

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pelantkan Ketua OSIM MTs. Al-Yasini Masa Bakti 2026-2027

26 October 2026 - 08:10 WIB

Selamat Hari Santri Nasional 2026

22 October 2026 - 09:13 WIB

Refleksi Hari Santri 2026: Ketika Negeri Kehilangan Keteladanan, Santri Harus Berbuat Apa?

21 October 2026 - 12:34 WIB

MTs. Al-Yasini Raih Terbaik 3 Lomba Sholawat Al-Banjari

7 September 2026 - 07:16 WIB

MTs Al-Yasini Raih Tiga Medali di ASEAN Olympiad Trengganu Malaysia

20 August 2026 - 18:46 WIB

MOU Sister School dengan SMK Chung HWA Wei Sin Trengganu Malaysia dan MTsN Solok 2 Sumatra Selatan

18 August 2026 - 21:57 WIB

Trending di Prestasi Siswa